TANJUNGPINANG, TUAHKEPRI – Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tanjungpinang kembali menjadi sorotan. Seorang pasien bernama Ponia, warga Tanjungpinang, diduga mengalami kesalahan diagnosis setelah menjalani pemeriksaan usai terjatuh di kamar mandi pada Senin (27/7/2026).
Menurut keterangan pihak keluarga, Ponia dibawa ke RSUD Kota Tanjungpinang untuk mendapatkan penanganan medis dan menjalani pemeriksaan rontgen (X-Ray) karena mengeluhkan nyeri akibat terjatuh. Namun, keluarga menilai proses pemeriksaan yang dilakukan belum sesuai dengan bagian tubuh yang dikeluhkan pasien.
Setelah pemeriksaan, keluarga mengaku mendapat penjelasan dari dokter bahwa kondisi pasien tidak mengalami cedera serius.
“Tidak ada masalah, hanya memar saja, boleh dibawa pulang,” ujar dokter kepada keluarga pasien, sebagaimana dituturkan pihak keluarga.
Namun, kondisi Ponia disebut tidak kunjung membaik. Bahkan, sekitar sepekan setelah pemeriksaan awal, pasien justru mengalami keluhan yang semakin berat.
Merasa khawatir, keluarga kembali mendatangi RSUD Kota Tanjungpinang pada Sabtu (1/8/2026) untuk meminta penjelasan terkait diagnosis sebelumnya. Meski demikian, keluarga mengaku belum memperoleh jawaban maupun penanganan yang memuaskan.
Karena kondisi pasien terus memburuk, keluarga akhirnya memutuskan membawa Ponia ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RS AL) Tanjungpinang guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan atau second opinion.
Di RS AL, pasien kembali menjalani pemeriksaan rontgen. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, keluarga mengaku diberi penjelasan bahwa pasien mengalami patah tulang besar, berbeda dengan diagnosis awal yang mereka terima di RSUD Kota Tanjungpinang.
Perbedaan hasil pemeriksaan itu membuat keluarga mempertanyakan profesionalisme pelayanan medis yang diberikan RSUD Kota Tanjungpinang.
“Kami sebagai keluarga pasien merasa sangat kecewa dan dirugikan atas pelayanan RSUD Kota Tanjungpinang. Untung saja kami berinisiatif memeriksakan kembali ke RS AL. Kalau tidak, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada orang tua kami jika kondisi patah tulang itu tidak segera diketahui,” ujar Amat, perwakilan keluarga.
Atas kejadian tersebut, keluarga berharap manajemen RSUD Kota Tanjungpinang bersama Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan medis, khususnya terkait proses diagnosis pasien, agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Hingga berita ini disusun, pihak RSUD Kota Tanjungpinang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kesalahan diagnosis yang disampaikan keluarga pasien. Media ini masih berupaya mengonfirmasi pihak rumah sakit untuk memperoleh penjelasan dan tanggapan sehingga pemberitaan tetap berimbang. (YT/AL).
