oleh

Ferry Tass : Christopher Tersangka Koruptor Rugikan Negara Ditahan

Tanjungpinang, Tuah Kepri – Bentuk bukti dan komitmen Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri kepada masyarakat menginginkan keadilan memberantas tindak pidana korupsi, memasuki triwulan 3 tahun 2017, terus menuntaskan semua pekerjaan dalam penegakan hukum.

Asisten Tindak Pidana Korupsi (Aspidsus) Kejati Kepri, Ferry Tass SH MHum Msi
Asisten Tindak Pidana Korupsi (Aspidsus) Kejati Kepri, Ferry Tass SH MHum Msi

“Insyaa Allah pada akhir tahun ini akan tuntas semua, pokoknya tidak ada tempat bagi koruptor di bumi Kepri, siapapun yang terlibat akan kita sikat tanpa pandang bulu. Karena, korupsi menyengsarakan bangsa,” kata Asisten Tindak Pidana Korupsi (Aspidsus) Kejati Kepri, Ferry Tass SH MHum Msi, Selasa, (3/10/2017).

Ferry Tass mengatakan, Christopher Dewabrata, Direktur Utama PT Beringin Bangun Utama, merupakan salah satu diantara tersangka koruptor di Kepri yang merugikan negara saat ini ditanganinya. Tersangka diduga melakukan kasus korupsi proyek pembangunan Tanggul Urung di Teluk Radang, Kecamatan Tanjungbatu Karimun, pada APBD 2014 senilai Rp5,4 miliar, akhirnya ditahan di Rutan Tanjungpinang, Selasa (3/10).

Setelah melewati proses panjang menjadi buron selama lebih kurang dua tahun, Christopher akhirnya bisa dijemput oleh penyidik ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu.

“Christopher kita jemput dari Bengkulu untuk melanjutkan proses persidangan di PN Tipikor Tanjungpinang,” kata Ferry Tass.

Sebelumnya, dia ditangkap Kejati Bengkulu di salah satu restoran di kawasan Jakarta Barat, Sabtu (4/2) 2017 lalu. Selain jadi buronan di Kepri, Christopher ternyata juga menjadi buronan Kejati Bengkulu.

Karena Ia juga diduga melakukan korupsi proyek Pembangunan Pengendali Banjir (PPB), Balai Wilayah Sungai (BSW) VII, di Kelurahan Surabaya, Kecamatan Sungai Serut Kota Bengkulu, Bengkulu, tahun 2014 lalu.

Dalam kasus di Bengkulu itu,  Christopher telah divonis penjara selama 8 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) setempat. Usai divonis tersangka kemudian dijemput pihak Kejati Kepri di Rutan Bengkulu.

Selanjutnya proses penggiringan tersangka Christopher ke Rutan Tanjungpinang, kata Ferry Tass guna menjalani proses sidang dalam kasus korupsi proyek pembangunan Tanggul Urung di Kecamatan Tanjungbatu, Karimun.

“Penjemputan Christopher dari Rutan Bengkulu, sesuai mekanisme hukum yang berlaku untuk menjalani sidang dalam kasus korupsi,” ucap Ferry Tass.

Namun sebelum menjalani proses pelimpahan berkas pelaksanaan sidang perkara di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, katanya, pihak Kejati Kepri kembali melakukan pemeriksaan, untuk melengkapi berkas yang sebelumnya telah dikerjakan oleh tim jaksa penyidik.

“Kita akan periksa kembali sesuai mekanisme dan ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

Terpisah, Kepala Cabang Kejaksaan Negeri (Kacabjari) Tanjungbatu, Karimun, Filpan FD Laia SH mengatakan, kasus Christopher bermula tahun 2014, Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepri terdapat pekerjaan pembangunan tanggul Urung-Tanjungbatu tahap I berasal dari dana APBD dengan pagu anggaran Rp18.066.000.000.

Setelah dilakukan pelelangan umum dengan metode pascakualifikasi I sistem gugur ditetapkan PT Beringin Bangun Utama selaku pemenang dengan harga penawaran terkoreksi sebesar Rp16.450.203.000.

Namun dalam perjalanan pekerjaan tanggul baru selesai sekitar 76,40 persen, tapi dalam laporannya pekerjaan tersebut sudah rampung 100 persen.

Presentase pekerjaan adalah 76,40 persen dibanding 100 persen sebagaimana addendum. Terdapat denda keterlambatan dan pencairan jaminan pelaksanaan seharusnya disetorkan pada kas daerah.

Atas perbuatan tersangka dapat dijerat sebagaimana diatur dala Pasal 2 jo Pasal 3 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.  (AFRIZAL).

Komentar