Tanjungpinang, (TK) –
[dropcap]W[/dropcap]arga Tanjungpinang tetap resah dengan masih melonjaknya harga beras yang dijual di swalayan dan di gudang distributor beras.
Akibat naiknya beras yang tidak terkontrol itu, warga berniat akan beralih mengkomsumsi beras raskin, kendati beras tersebut subsidi pemerintah dan tidak sembarang diperjual belikan.
“Kalau begini, kita beli beras raskin aja, lebih murah,” kata seorang ibu rumah tangga yang sedang membeli beras di gudang batu tujuh, Kamis (26/11/2015).
[Baca juga – Ruko 4 lantai roboh, belum diketahui kerugiannya]
Seperti di distributor gudang batu tujuh, beras yang dijual yaitu beras cap lombok, beras anak terbang dan cap 234, harganya tinggi.
Belum sebulan beras infor itu naik dari harga Rp 203.000 menjadi Rp 230.000, dan dinaikan lagi menjadi Rp 278.000, untuk isi 25 kg
Menurut penjualnya, kenaikan beras itu tidak serta merta naik begitu saja. “Naiknya berkala, tidak langsung naik segitu,” katanya.
[Baca juga – Keterampilan Juleha dengan syariat Islam]
Terpisah kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Ekraf Kota Tanjungpinang, Teguh Susanto saat dikonfirmasi mengatakan, kenaikam beras itu akibat infor beras dihentikan.
“Yang naik itu beras infor dan itu stok lama, beras lokal tidak ada yang naik,” kata Teguh.
Namun menurut Teguh, untuk masyarakat Tanjungpinang disarankan sebaiknya beralih pada beras lokal. Karena selain harganya terjangkau, juga kwalitasnya bagus.
“Seperti beras cap gajah harganya jualnya hari ini Rp 12.500 per kg, beras kalajengking per kg dijual Rp 12.000 kg, beras cap Padang Raya Rp12.000 per kg. Dan sekarang beras lokal sudah tidak susah lagi mendapatkanya,” ujarnya.
Karena, dikatakanya, beras lokal yang masuk ke Tanjungpinang yaitu beras asal Jawa. ” Dan menurut data kami ada lima gudang beras, yang telah masuk untuk beras lokal ini,” kata Teguh.
[Baca juga – Mantan petugas lapas edarkan sabu]

(AFRIZAL)










Komentar