JAKARTA, TUAHKEPRI –Perpustakaan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek, menggelar Bedah Buku Kumpulan puisi karya penyair Ning (Sutarya Aryaningsih) Perihal Kita dan Idrus F Shahab Sajak-sajak Malam Gerimis Setangkai Mawar Chairil, di Aula Sasadu, Gedung M Tabrani, Badan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, Selasa (30/4/2024).
Kumpulan Puisi Ning dibedah oleh Eko Marini, M.Hum, yang dikenal sebagai penulis esai, cerita pendek, dan sekaligus Ketua KKLP Pembinaan dan Bahasa Hukum Badan Bahasa dan buku Idrus F Shahab dibedah cendekiawan dari FIB UI yang juga penyair Profesor Jeffry Alkatiri.
Tampil pula sebagai narasumber yang mengaitkan pembedahan kedua buku tersebut dengan merdeka mengajar oleh Penulis dan Guru Penggerak dari SMAN 56 Jakarta, Indri Anatya Permatasari. Bedah buku dipandu penulis dan dosen Akademi Televisi Indonesia (ATVI) Suradi, M.Si.
Pada kesempatan itu, Penyair Ning dari Kota Batam, Kepulauan Riau, yang juga dikenal sebagai guru pada SD Negeri 003 Batu Aji, Kota Batam, memulai aksinya dengan membaca dua puisi dari kumpulan puisinya Perihal Kita, yakni puisi yang berjudul “Cemburu pada Laut” dan “Perihal Kita”. Usai baca puisi, yang mendapat sambutan meriah para hadirin, Ning diberi kesempatan untuk menyampaikan sekilas proses kretifnya menulis puisi- puisi dalam kumpulan puisi Perihal Kita.
Ning, yang lahir di Kijang, Bintan Timur, Pulau Bintan, Kepulauan Riau, 12 Oktober 1980 dengan nama lengkap Sutarya Aryaningsih, S.Pd, menjelaskan puisi-puisi tersebut sebagian besar dutulisnya dalam rentang masa hampir setengah tahun pada waktu penyembuhan sakit patah kaki akibat kecalakaan lalu lintas, di Batam.
Secara umum, menurut Ning, yang sebelumnya sudah menerbitkan buku kumpulan puisi sulung Pasal-pasal Rindu (2020), puisinya dalam kumpulan Perihal Kita menangkap, menyerap, merekam dan memaknai berbagai peristiwa ataupun hal ikhwal yang terjadi dan ditemui di dalam pergaulan sosial kemasyarakatan.
“Menulis puisi, banyak sumbernya, apa yang dialami orang-orang sekitar kita, bisa menjadi ide penulisan puisi. Jika hendak menjadi penulis, maka tulislah apa yang dipikirkan, ide yang datang,” katanya.
Ibu Guru Sutarya Artaningsih, sebelum menjadi guru di SDN 003 Batu Aji, dikenal sebagai guru pada salah satu SLB di Batam (2012-2021). Ditambahkannya, bahwa puisi-puisi yang terangkum dalam kumpulan Perihal Kita sesungguhnya berkenaan dengan cinta, rindu, kasih dan sayang. Pengalaman menjadi guru di SLB dan SD telah memberi makna yang mendalam dan penting tentang “perihal kita”.
Dengan demikian, dapat ditegaskan, kumpulan puisi ini, bukan sekedar cinta kasih dua insan sebagaimana kelaziman suatu percintaan, tetapi adalah tentang aku, dia, mereka dan kita. Cinta yang paling punca dan puncak tentulah citanya Tuhan kepada hamba- hambanya. Sebaliknya hamba (manusia) tak terkira cintanya kepada Tuhan. “Perihal kita adalah perihal yang tak sepi dari waktu dan tak hilang dari zaman. Maka adalah indah ketika dapat mewarat dan menjagga dengan ikhlas perihal kita.”
Pada acara bedah buku yang juga dapat diikuti dan disaksikan secara zoom tersebut, kumpulan puisi Ning Perihal Kita, Eko Marini, sebagai pembedah buku memberi ulasannya secara mendalam, dan bernas walaupun diakuinya hanya sekilas, karena keterbatasan masa membaca kumpulan puisi tersebut.
Menurutnya, makna yang terkandung di dalam puisi-puisi Ning menyiratkan tentang kerinduan, cinta, harapan dan motivasi hidup. Dia mengakui, bagaimana dapat dipahami pengalaman hidup yang dilalui Ning, terutama pada masa sakit akibat patah kaki itu.
Eko Marini menjelaskan, ada beberapa hal yang kita ambil dari buku Ning itu. Pertama, dalam buku ini diketahui rentang waktu penulisannya yang ditulis pada 2020-2023, terdapat 43 puisi.
Kedua, secara umum isi puisi menyiratkan kerinduan seseorang kepada kekasih hati. Ada enam puisi yang judulnya menggunakan kata rindu, yaitu “Rindu ini Memanggilmu”, Rindu yang Kutitip”, “Titip Rindu pada Hujan”, “Titip Rindu”, “Masih Tentang Rindu”, dan “Rindu yang Tak Pernah Kalah”.
Ketiga, Puisi “Perihal Kita” yang menjadi judul buku ini, secara tersirat menyampaikan kasih dua insan yang masih belum jelas nasib dan kepastian untuk bersama. Semuanya masih ambigu antara pasti dan tidak pasti akan bersatu.
Dari puisi Ning ini, tambah Eko Marini, dapat pula dilihat dari gaya bahasanya. Sebagaimana dipahami, pertama, setiap penulis, termasuk Ning mempunyai gaya tersendiri dalam mengungkapkan ide dan gagasannya dalam bentuk puisi. Kedua, penulis mendiskripsikan peristiwa yang dialami melalui pemilihan diksi yang beragam.
Ketiga, beberapa puisi juga sengaja ditulis dengan pemanfaatan bunyi-bunyi bahasa dengan memperhatikan rima dan ritme. Keempat, pemakaian bahasa figurative (majas) dalam puisi-puisi di buku ini.
Lebih mendalam dijelaskan Eko Marini, gaya bahasa puisi-puisi Ning dalam buku Perihal Kita, yang gaya bahasa figuratif dalam puisi ini meliputi idiom, arti kiasan, konotasi, metafora, metanomia, simile, personifikasi, dan hiperbola. Idiom adalah penggunaan kata atau kelompok kata secara unik, karena artinya tidak dapat dirunut secara langsung dari unsur-unsur pembentuk kata atau kelompok kata tersebut.
Arti kiasan ini mengkiaskan atau mempersamakan sesuatu hal dengan hal lain supaya gambaran menjadi jelas, lebih menarik, dan lebih hidup.
Misalnya, tambah penulis yang sudah menulis beragam karya sastra tersebut, puisi “Memujamu”: Bagi sebuah mahakarya aku memujamu/ Laksana buih pada ombak yang bersemburan dari lautan, menari mengikuti irama nyanyian./ Burung-burung berkicau, aku menikmati setiap momen yang terlalui./ Walau di sela bebatuan ombak terpecah./ Aku tetaplah memujamu. Kemudian puisi “Kuingin Terbang”: Andai aku bisa terbang/ Kan kulintasi telaga langit/ Tenggelam di dalamnya/ Menembus awan/ Mencuri bintang/ Merampas rembulan/ Kusimpan sebagai penunjuk jalan/ Sebagai lentera yang berpijar terang/ Sangat terang!// Terbang mencari mentari/ Aku ingin menjemput pagi/ Kuyakin ada kamu di sudut awan hari/ Di balik indahnya gapura pagi/ Lewati batas mimpi/ Mimpi yang setia menjadi bingkai imajinasi// Ah, betapa semua itu selalu kurindui/ Setiap pagi membuka hari hingga malam menutup senja/ Aku berkalang rindu/ Rindu yang terus berkelebat di setiap penjuru malamku.
Kemudian, lanjut Eko Marini adalah metominia adalah majas yang berupa pemakaian nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang atau hal sebagai penggantinya. Ini dapat dilihat dan disimak antara lain puisi:
“Pemujamu” (hlm, 11), “Mendung diWajahmu” (hlm.12), “Genangan Rindu” (hlm.17), dan “Hujan” (hlm.21). “Genangan Rindu”: Harus bagaimana memangkas malam/ Agar cepat bertemu fajar/ Harus seperti apa membunuh sepi/ Dini hari tanpa kecup sapamu// Ternyata rindu kembali mengayuh/ Menyapa jiwa terbalut angkuh/ Menyerang tak kenal waktu/ Membidik hati dalam lara dan pilu//
Kemudian Kini mata enggan memejam/ Jemari kembali meronta lewat huruf/ Menasbihkan hati pada ingatan tentangmu/ Membawa rasa ‘tuk meraba kehadiranmu// Saat mentari datang kian tinggi/ Saat senja mulai menyapa rona mega/ Saat malam hembuskan udara dingin/ Bahkan saat bagi masih mengintip malu// Rindu ini tak kunjung pergi/ Menolak menjadi sirna/ Raga ini terbelit dahaga atas peluk hangatmu/ Sungguh, aku rindu padamu…
Pada kesempatan tersebut, menyangkut proses kratif, Ning, menyampaikan terimasihnya yang mendalam kepada Budayawan Melayu dan Sastrawan Nasional, Rida K Liamsi, dan Sastrawan Indonesia Abdul Kadir Ibrahim (Akib), yang telah memotivasi dan memberi masukan bearti di dalam dunia perpuisian, khususnya puisi-puisi dengan gaya Melayu.
Dalam proses kreativ itu pula penyair Ning menyampaikan terimkasih kepada suatu lembaga yang telah memberi laluan kepadanya pada masa-masa awal ikut dalam perpuisian, yakni Rumahitam Batam, yang dipimpin Tarmizi.
Sebagai penyair, Ning berterimakasih pula kepada Perpustakaan Badan Bahasa, khususnya kepada Sekretaris Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Hafidz Muksin, yang telah memberi kesempatan dapat bukunya dibedah di Perpusatakaan Badan Bahasa. Juga kepada Kepala Kantor Bahasa Kepulauan Riau, Rahmat.
Sebagai guru di SDN 003 Batam, Ning menyampaikan terimakasih atas sokongan dan dukungan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Kepala SDN 003 Batu Aji Batam, dan rekan sejawat di sekolahnya.
“Puji syukur kepada Allah yang telah memberikan saya kemampuan dan kesempatan menulis puisi. Alhamdulillah, semoga bermanfaat bagi orang ramai, khususnya anak-anak di sekolah-sekolah. Tentu sangat terimakasih saya kepada kedua orang tua saya, Bapak dan Ibuk, dan juga suami saya tercinta yang mau memaklumi saya dalam berkarya, serta anak bujang saya,” kata Ning, sambil menambahkan akan terus menulis dan menerbitkan buku.
Sementara itu, Sekretaris Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Hafidz Muksin, S.Sos, M.Si dalam sambutanya mengatakan, acara bedah buku ini betul-betul akan terus menjadi salah satu upaya meningkatkan peran dan fungsi Perpustakaan Badan Bahasa. Kepada Idrus F Shahab dan Sutarya Aryaningsih atau Ning, diharapkan karya-karyanya akan menjadi inspirasi positif bagi pengembangan sastra di Indonesia. Acara ini, membedah informasi dan juga kreativitas untuk berkarya di masa yang akan datang.
Sedangkan Pustakawan Badan Bahasa, Tuti Pujiastuti, pada kesempatan tersebut menyampaikan, Pustaka Badan Badan Bahasa secara konsisten melaksanakan acara pembedahan buku setiap tahunnya. Ditambahkannya juga, pada saat ini koleksi buku pada Perpustakaan Badan Bahasa sebanyak 36.000 judul dengan jumlah bukunya 48.000 eksamplar. (RIZAL).










Komentar