Tanjungpinang, Tuah Kepri –
Wakil Walikota Tanjungpinang, H.Syahrul mengajak seluruh masyarakat serta jajaran instansi pemerintah untuk mengantisipasi kedatangan pengungsi asing di Kota Tanjungpinang.
“Saya minta masyarakat beserta pihak-pihak terkait, dapat memantau kedatangan pengungsi asing yang masuk di Provinsi Kepri, khususnya Kota Tanjungpinang. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya penyeludupan narkoba dan gangguan keamanan,” kata Syahrul, saat sambutan pada acara Sosialisasi Keimigrasian Penanganan dan Penanggulangan Orang Asing Sebagai Pengungsi atau Pencari Suaka, di Ballroom Hotel CK Tanjungpinang, Rabu (10/8).
Sosialisasi yang digelar oleh Rumah Detensi Imigrasi Pusat Tanjungpinang itu berlangsung selama satu hari, yang diikuti sebanyak 60 peserta dari berbagai pejabat dan pelaksana teknis instansi vertikal, instansi pemerintah, serta perangkat daerah.
Dikatakan Syahrul, rumah detensi Imigrasi merupakan tempat penampungan sementara bagi para pengungsi dari berbagai negara, terlebih lagi negara konflik berada di pemukiman penduduk.
“Kedatangan mereka yang semakin bertambah dari tahun ketahun, akan memadati rudenim dan ini rentan menggangu kehidupan sosial di lingkungan sekitar, ” ujar Syahrul.
Karena itu dikatakanya, sosialisasi ini sangat penting supaya masyarakat serta pihak-pihak terkait, dapat berperan aktif dan saling berkoordinasi untuk mengatisipasi hal-hal yang bisa menggangu keamanan di kota ini.
“Saya minta kepada peserta, untuk mengikuti sosialisasi ini dengan seksama guna menciptakan suasana kondusif dan aman di Provinsi Kepri, khususnya Tanjungpinang,” ucap Syahrul.
Sementara ituKakanwil Kemenkumham Kepri, Ohan Suryana menjelaskan, sosialisasi ini dilaksanakan sebagai wujud kepedulian dan komitmen rudenim pusat dalam memberikan pemahaman tentang permasalahan, bagaimana strategi serta penanggulangan Warga Negara Asing yang Ilegal sesuai dengan hukum yang berlaku di negara Indonesia maupun Internasional.
Menurut Suryana, kedatangan imigran ilegal di indonesia, terutama di Provinsi Kepri berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat maupun menggangu kestabilan perekonomian.
“Ribuan orang pencari suaka yang resmi maupun tidak resmi berada di tanah air, di Kepri sendiri saja sudah lebih dari 2000 imigran gelap.Tentunya dengan keterbatasan sarana dan prasarana, mereka akan berkeliaran sehingga akan mengkhawatirkan memicu ganguan keamanan di wilayah ini,” ucap Suryana.
Itu sebabnya, kata dia, mengundang bapak/ibu pada sosialisasi ini, supaya bisa menyumakan pemikiran rangka penangganan dan penanggulangan imigran ilegal yang masuk ke Indonesia, khususnya di Provinsi Kepri,” ujarnya. (AFRIZAL).
Komentar