TANJUNGPINANG, TUAHKEPRI –Bakal Calon (Balon) Wakil Walikota Tanjungpinang, Raja Ariza, memiliki kisah hidup yang penuh inspirasi, berakar dari masa-masa sulit pada tahun 1960-an. Pada periode tersebut, Indonesia menghadapi tantangan besar, termasuk konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura serta rencana kudeta G-30S/PKI yang menambah ketidakstabilan.
Kepulauan Riau, sebagai daerah kepulauan, merasakan dampak yang lebih parah dengan keterbatasan akses dan distribusi sembako yang sangat terbatas.
Raja Ariza mengingat betapa sulitnya mendapatkan kebutuhan pokok seperti beras, yang pada waktu itu menjadi barang langka dan sangat berharga.
“Kerak nasi itu rebutan dulu. Karena susah mendapatkan beras,” ungkapnya, mengenang kondisi yang membuat makanan sehari-hari sangat sederhana, dengan beras menjadi barang mewah.
Saat itu, makanan utama mereka adalah sagu dan ikan laut, dengan beras hanya tersedia sesekali. Raja Ariza menceritakan bagaimana dia dan keluarganya seringkali hanya mengandalkan cabai dan garam untuk melengkapi makanan mereka.
“Makan seadanya sudah biasa. Makan tanpa ikan dan sayur, hanya cabai dan garam,” kenangnya.
Pengalaman masa kecilnya yang penuh kesederhanaan membentuk karakter Raja Ariza yang tidak pilih-pilih makanan. Dia lebih suka makan ceker ayam dibandingkan daging ayam atau sop, karena baginya makanan sederhana pun bisa memuaskan.
“Memang lagi pingin (ceker). Kalau saya tak pilih-pilih lah soal makanan,” ujarnya sambil menikmati ceker ayam di warung makan di Kijang, Bintan.
Selain itu, kecintaan Raja Ariza terhadap ubi mencerminkan kerja keras dan kesederhanaannya. Dia menanam ubi di lahan seluas dua hektare di rumahnya di Wacopek, dan hasil panennya dikelola oleh masyarakat menjadi kerupuk.
“Saat santai dengan teman-teman, saya sering makan ubi,” tambahnya.
Meskipun menghadapi masa kecil yang penuh kesulitan, Raja Ariza tetap bersyukur dan menjadikannya sebagai motivasi untuk mengejar pendidikan lebih tinggi. Dengan tekad kuat, dia berhasil meraih gelar S2 (magister). Baginya, ilmu pengetahuan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah kunci kemajuan bangsa.
Raja Ariza percaya bahwa tantangan keuangan tidak boleh menghentikan langkah untuk terus belajar dan berkembang. “Tidak ada kata menyerah. Tantangan harus dilalui dan solusi harus dicari, seberat apapun masalahnya,” tegasnya.
Kini, Raja Ariza berfokus pada solusi untuk berbagai persoalan, termasuk masalah APBD Tanjungpinang yang dinilai terlalu kecil. “Lis-Raja akan mencari solusinya. Itu dulu kuncinya,” ujarnya, menegaskan komitmennya untuk membawa perubahan positif bagi kota Tanjungpinang.
Kisah Raja Ariza adalah contoh nyata bagaimana ketahanan dan tekad seseorang dapat mengatasi masa-masa sulit dan memberikan kontribusi yang berarti untuk kemajuan komunitasnya.
Editor : Rizal









Komentar