Mantan Bendahara KNPI Bukittingi Ditahan Kasus Dana Hibah 2012

Ferry Taslim : Ketua Diminta Kooperatif Untuk Kepentingan Penyelidikan

Bukittinggi, Tuah Kepri – Kejaksaan Negeri Bukittinggi Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), menetapkan dan menahan satu orang tersangka berinisial DA mantan Bendahara Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bukittinggi, dalam kasus penyelewengan dana hibah yang diterima KNPI Bukittinggi sekitar Rp 200 juta pada tahun 2012 lalu.

Atas kasus tersebut, hari ini Senin 29 April 2019 secara resmi ditahan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kepala Kejaksaan Negeri Bukittinggi Ferry Taslim Datuak Toembidjo mengatakan, kasus ini sudah ditangani sejak awal tahun, ktika Kajari baru saja mengemban tugas sebagai Kajari di Kampung sendiri.

“Namun terpending karena persiapan menghadapi Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif, maka hari ini dilanjutkan kembali dan pada akhirnya tim jaksa penyidik Tindak Pidana Khusus Kejari Bukittinggi berkesimpulan, bahwa dari pemeriksaaan terhadap tersangka perlu dilakukan tindakan hukum, untuk lebih mempermudah pelaksanaan mempercepat penyelidikan,” kata Ferry Taslim si pemburu koruptor ini, Selasa (30/4/2019).

Selanjutnya dikatakan Ferry Taslim, untuk mengantisifasi supaya tersangka tidak melarikan diri, mengulangi perbuatannya atau tidak menghilangkan barang bukti, untuk diketahui bahwa ini baru satu tersangka yang ditetapkan.

“Tidak tertutup kemungkinan akan ada lagi tersangka lainnya, sebelumnya dalam pemberitaan sebelumnya juga telah disebut- sebut adanya tersangka lain dengan inisial DS jabatan Ketua KNPI, ” ucap Kejari Bukittinggi ini.

Inisial DS kata Ferry Taslim menurut Kasi Pidsus Reza Rahim, waktu itu telah dipanggil beberapa kali sebagai saksi dalam kasus ini, namun tidak pernah hadir tanpa alasan yang jelas.

Menurut Ferry Taslim, pihak Kejaksaan Negeri Bukittinggi meminta pada yang tersangkut atau berkaitan dalam perkara ini untuk bersifat koperatif, karena untuk saat ini tidak ada lagi tempat yang nyaman untuk koruptor atau pelaku tindak pidana untuk bersembunyi.

“Apabila pihak-pihak terkait yang terlibat perkara ini tidak bisa kooperatif, tidak bersedia memenuhi panggilan, tidak mau diperiksa, apalagi sempat berusaha kabur melarikan diri, bahkan mencoba menghilangkan barang bukti, sudah tidak zamannya lagi. Karena kemanapun yang bersangkutan melarikan diri atau bersembunyi akan terus dikejar,” kata Fery Taslim.

Berdasarkan pengalaman bertugas di beberapa daerah kata Ferry Taslim, seperti di Kejati Kepri selaku Asisten Tindak Pidana Khusus baru-baru ini, ada tiga buronan kelas kakap berhasil ditangkap kembali dan akhirnya dihotel prodeokan mereka yang mencoba lari dari ketentuan hukum.

“Jangan sampai hal yang sama juga dilakukan terhadap yang bersangkutan dalam kasus ini. Kita berpegang secara profesional dan proporsional pada azas yuridis, yang mngedepankan penanganan perkara yang berkualitas sesuai normatif aturan yang ada. Apabila tidak kooperatif, pastinya akan ada tindakan hukum lain yang dapat dilakukan,” ucap Ferry.

Tersangka yang ditahan hari ini, katanya diperiksa sejak jam 9 pagi sampai sore hari oleh jaksa penyidik pada Pidana Khusus, dan terhadap yang bersangkutan dilakukan tindakan penahanan selama 20 hari kedepan di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Bukittinggi.

“Sebagaimana diketahui bahwa, saat kejadian DA merupakan Bendahara KNPI atau orang yang paling tau kemana arah uang hibah yang diterima. Nanti akan ada pengembangan lebih lanjut, mudah-mudahan terungkap siapa saja yang terlibat dalam kasus ini,” kata Ferry Taslim.

Namun berdasarkan laporan dari Jaksa pemeriksa kata Ferry Taslim, tersangka DA ckup kooperatif saat dilakukan pmeriksaan dan ketika pemanggilan selalu datang dan dia juga membawa pengacara.

Dengan dilakukan tindakan seperti ini, artinya sudah memenuhi dua unsur pembuktian awal yang cukup untuk ditingkatkan kepenuntutan dipersidangan dalam kasus ini, karena ada hibah dari Dinas terkait pada KNPI pada tahun 2012 lalu, namun dana itu tidak digunakan sesuai peruntukannya sebagaimana mestinya.

Setiap kegiatan yang dilakukan dengan dana itu tidak memiliki bukti bukti atau memenuhi dokumen-dokumen yang ada, dengan artian ada prbuatan melawan hukum (actuz reuz) dan penyimpangan dari uang negara.

“Dalam hal ini kerugian negara yang ditaksir Rp200 juta, dan hal itu juga sudah diaudit investigatif oleh Badan Pemeriksa Keuangan Provinsi (BPKP) Sumatera Barat, hasilnya sudah ada, kerugian negara itu tidak dapat mereka pertanggungjawaban,” ujar Ferry Taslim.

Namun untuk memperkuat pembuktian, menurut Ferry, belasan saksi sudah diperiksa. kesimpulannya ada keterangan yang bersesuaian mengarah pada perbuatan tersangka dan mantan Wali Kota Bukittinggi pada masa itu juga sudah diperiksa sebagai saksi.

“Kita tidak menarget orang, namun dari pengembangan pemeriksaan -pemeriksaan kalau mengarah pada siapapun, kita tidak akan takut untuk menyeret itu. Yang jelas Ketua KNPI pada zaman TSK ini menjadi bendahara juga harus ikut bertanggungjawab, tidak mungkin bendahara bekerja sendiri,” ucapnya.

Untuk itu Ferry Taslim meminta Ketua KNPI untuk kooperatif demi terang benderang untuk kelanjutan kasus ini.

Jika panggilan tidak juga dipenuhi, kata dia, yang bersangkutan akan dilakukan tndakan tegas dan upaya hukum lain, karena perbuatan melawan hukum yang dilakukan itu harus dipertanggung jawabkan secara hukum dan pelakunya harus ditindak tegas. (ZAL).

Email Autoresponder indonesia
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mantan Bendahara KNPI Bukittingi Ditahan Kasus Dana Hibah 2012"