TANJUNGPINANG, TUAHKEPRI-Perjalanan hijrah meninggalkan kampung halaman di Tanah Karo menuju Kota Tanjungpinang penuh dengan liku dan rintangan berat.
Hal ini dialami oleh keluarga L. Sembiring bersama istri dan dua anaknya. Niat untuk mengadu nasib di perantauan justru dihadapkan pada berbagai keterbatasan.
Perjalanan panjang mereka tempuh dengan modal seadanya. Mereka memulai perjalanan darat dari Medan menuju Tanjung Buton, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan kapal Roro menuju Telaga Punggur, hingga akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjungpinang.
Namun, setibanya di kota tujuan, bekal yang mereka bawa perlahan habis. Demi memenuhi kebutuhan hidup, kepala keluarga terpaksa berjualan tisu di lampu merah kawasan Pamedan.
Untuk tempat tinggal, mereka sempat berteduh di area terbuka sebelum akhirnya bertemu dengan petugas kebersihan yang mengizinkan mereka menumpang sementara di sebuah surau di kawasan tersebut.
Kisah pilu keluarga yang tergolong ibnu sabil ini kemudian sampai ke Yayasan Muallaf Bersatu Kepulauan Riau. Melalui Ustadz Sudianto, yayasan tersebut bergerak cepat dengan memfasilitasi dan menghubungkan keluarga itu dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Tanjungpinang serta Perkumpulan Muslim Karo Tanjungpinang.
Kepedulian dan Solidaritas
Wakil Ketua Perkumpulan Muslim Karo Tanjungpinang, Achmad Pardamean Sembiring, mengaku prihatin sekaligus terharu melihat kondisi keluarga tersebut.
“Kami turut prihatin dan merasa terharu melihat perjuangan mereka,” ujarnya.
Untuk membantu meringankan beban keluarga tersebut, pihaknya segera berkoordinasi dengan berbagai pihak. Melalui Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Rantha Fauzi Sembiring, dilakukan koordinasi dengan BAZNAS dan Dinas Sosial Kota Tanjungpinang.
“Kami berkoordinasi dengan BAZNAS dan Dinas Sosial Kota Tanjungpinang untuk memberikan bantuan kepada keluarga ini,” tambahnya.
Berkat kolaborasi tersebut, saat ini keluarga L. Sembiring sudah tidak lagi tinggal di surau. Mereka telah ditempatkan di sebuah rumah kosong yang layak huni.
“Saat ini keluarga ibnu sabil tersebut telah kami tempatkan di rumah kosong yang lebih layak untuk dihuni. Ke depan, kami akan berupaya membantu mereka mendapatkan pekerjaan atau usaha yang layak demi keberlangsungan hidup mereka,” jelas Achmad.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga solidaritas dan rasa kekeluargaan, terutama di tengah kehidupan perantauan.
“Rasa solidaritas dan kekeluargaan harus terus kita pupuk, khususnya di daerah perantauan. Kami juga berterima kasih kepada Yayasan Muallaf Bersatu Kepulauan Riau dan BAZNAS Kota Tanjungpinang atas bantuan serta perhatian yang telah diberikan kepada keluarga ini,” tutupnya. (Red).






Komentar