oleh

Pemko KONI Tanjungpinang Diskriminatif Tidak Serius Laksanakan Pembinaan Cabor

Tanjungpinang, Tuah Kepri –

Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang maupun Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tanjungpinang, dinilai membeda-bedakan (diskriminatif) atau tidak menunjukkan keseriusan dalam melaksanakan program pembinaan terhadap cabang-cabang olahraga (cabor) yang ada.

“Seperti khususnya untuk cabang tenis meja yang ada di Tanjungpinang, kurangnya perhatian Pemerintah Tanjungpinang maupun Koni,” kata ketua Harian Pengurus Daerah Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Provinsi Kepri, Fahmizar, Minggu (14/2).

Fahmi yang juga merupakan Binpres dibidang pembinaan prestasi di KONI Tanjungpinang, mengkritisi lemahnya kinerja Ketua beserta pengurus KONI Tanjungpinang..

” Saya menilai tidak ada pembinaan maupun perhatian dari Pemko maupun KONI Tanjungpinang terhadap cabor-cabor, khususnya seperti cabor tenis meja. Hanya diperhatikan untuk 7 atau 10 cabor unggulan yang diprioritaskan oleh Pemko Tanjungpinang dan tenis meja tidak masuk. Padahal kita ingin maju dan saat ini kami usaha mandiri biaya sendiri tanpa bantuan Pemerintah Tanjungpinang,” katanya.

Bahkan ruko yang merupakan tempat kediamannya juga sekaligus dijadikan tempat berlatih sejumlah anak-anak dan remaja.

“Lantai 2 untuk usahanya, sedangkan lantai 1 untuk anak-anak latihan dan sebahagian keuntunggan juga untuk membantu pembinaan atlet tenis meja yang dilatihnya,” ujar Fahmi.

Namun kalau dihubungkan dengan kondisi APBD yang dalam dua tahun terakhir mengalami defisit, kata Fahmi tidak bisa dijadikan alasan. Karena, mengingat selama ini sebagian besar cabang olah raga justru atletnya berlatih dengan biaya swadaya masing-masing atlet.

Yang terpenting, menurutnya kalau olahraga ingin maju dan berkembang, sangat tergantung pada seberapa besar perhatian Pemda dan steakholder. Bentuk perhatian dimaksud tidak Ssemua berupa bantuan dana, namun suport motivasi dengan turun langsung meninjau sesi latihan para atlet, jauh lebih berkesan bagi para atlet itu sendiri.

” Untuk datang lihat anak-anak latihan saja tidak pernah, apalagi untuk bantuan dana,” ucap Fahmi.

Ia berkeinginan seluruh cabang olah raga yang ada di Kota Tanjungpinang berkembang pesat, khususnya untuk cabang tenis meja.

“Dan untuk menguji kemampuan atlit, kadang kami mengundang pihak negara luar seperti Singapura maupun Malaysia. Begitu juga sebaliknya, merekapun mengundang kita untuk uji coba,” kata mantan atlet tenis meja di Tanjungpinang Provinsi Kepri.

Sementara Tanjungpeinang sebagai ibukota provinsi seharusnya menjadi barometer dan rujukan pengembangan olah raga bagi kabupaten/kota yang lain bukan malah sebaliknya.

Fahmi juga menyarankan agar Pemko dan KONI Tanjungpinang tidak memunculkanlkan ketimpangan dari segi perhatian terhadap cabor. Meski Pemkot sudah memutuskan memprioritaskan pembinaan terhadap 7 cabor unggulan.

” Namun cabor yang tidak masuk prioritas, agar tetap juga diberi perhatian termasuk tenis meja.Untuk tenis meja sendiri saat ini menjadi cabor yang berkontribusi menyumbangkan 4 dari 5 atlet PON XIX Jawa Barat yang sekarang tengah mengikuti pemusatan latihan di Batam, dan 2 dari atlet tersebut diantaranya berasal dari Kota Tanjungpinan,” ujarnya. (AFRIZAL).

Komentar