Meskipun Kasat Pol PP, Akib Juga Pembicara Dialog Sastra Internasional

TANJUNGPINANG, TUAHKEPRI– Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Tanjungpinang, Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim,MT menjadi salah seorang pembicara pada Seminar Internasional dan Dialog Sastra.

Seminar ini dengan tema Penyair, Karya dan Proses Kreatifnya, di Sekolah Tinggi Agama Islam Sultan Abdul Rahman, Bintan, Kepulauan Riau (Kepri), Senin (30/10/2023) dalam serangkaian acara Festival Sastra Internasional Gunung Bintang (FSIGB) tahun 2023 di Pulau Bintan, yang berlangsung di Tanjungpinang dan Bintan, 29 Oktober-1 November 2023.

Pada acara, Abdul Kadir Ibrahim yang akrab dipanggil Akib dalam kapasitasnya sebagai Sastrawan (Kepulauan Riau, Indonesia), menjadi pembicara bersama Saleh Rahmat (Malaysia), Yatiman Yusof (Singapura), Hasan Aspahani (Jakarta, Indonesia), Mustamir Thalib (Riau, Indonesia) dan Ratna Ayu Budiarti (Bandung, Indonesia). Adapun para peserta adalah para penyair dari tiga negara, berbagai daerah di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Ketika peserta menanyakan kepada Akib, yang sehari-hari menduduki jabatan Eselon II (Kepala Dinas), yang kini adalah Kasat Pol PP Kota Tanjungpinang, tetapi bisa menulis karya sastra dan lainnya. Bagaimana mengatur waktu, kapan dan di mana menulis karya sastra, khususnya puisi ataupun tulisan lainnya, karena sibuk oleh pekerjaan dimaksud.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Tanjungpinang, Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim,MT
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Tanjungpinang, Drs. H. Abdul Kadir Ibrahim,MT

Akib menjelaskan, bahwa menulis apapun tulisannya, apalagi sekarang sudah punya hendphon, bisa menulis kapanpun dan di manapun.

” Kalau ide datang, maka tulislah seketika itu juga, sebagai upaya menyimpannya. Nanti, jikalau sudah ada waktu senggang kapan dan di manapun juga, barulah dilanjutkan tulisan dimaksud sehingga menjadi sebuah tulisan, apakah puisi atau lainnya,” kata Akib.

Dengan demikian, kata mantan Sekretaris DPRD Kota Tanjungpinang, menulis tidak perlu menyedikan tempat dan waktu yang khusus. Pada intinya, menulis itu tergantung dengan ide, pemikiran, ilham yang muncul seketika. Karena itu tidak ada masanya untuk ditunda. Tulis saja, walaupun hanya sebaris.

“Saya kira kalau kita bisa menghargai dengan baik ide yang ada dalam pikiran kita, dan memanfaatkannya, maka samasekali tidak akan mengganggu pekerjaan kita. Dalam kaitan ini, disiplin dan pandai penempatkan tanggungjawab,” tegas mantan Kadi Kominfo Kota Tanjungpinang ini.

Lebih lanjut ditambahkan Akib, kuncinya adalah memahami “nyawa puisi”  atau “ruh puisi” yang sesungguhnya adalah kata-kata puisi itu sendiri. Sebagai penyair, penulis puisi, mestilah berupaya melahirkan puisi-puisi yang “bernyawa” atau mempunyai “ruh” melampaui umur sang pengarangnya, yang ujung dari bernyawa itu hendaklah puisi dapat sebagai senapas (serangkai kata satu dengan lainnya sehingga menjadi satu bangunan puisi).

Puisi yang berhasil melintas dan merentas zaman, dari waktu ke waktu, dari kini sampai nanti dan bila-bila masa. Puisi yang sesuai dibaca dan dinikmati di mana dan kapanpun, melintasi dan melampuawi masa di mana puisi itu ditulis, tetap terasa baru, kekinian dan segar serta  memberi rasa yang dalam dan luas.

“Lihatlah puisi yang ditulis oleh banyak penyair, yang walaupun sudah puluhan tahun berlalu masa penulisannya, dan sudah meninggal pula penyairnya, tetapi puisi dimaksud masih segar, aktual dan mengena dengan masa kini,” kata sastrawan Indonesia yang berasal dari Natuna ini.

“Langkah menulis puisi, tentu yang saya pahami dan alami, yakni sesegara mungkin menulis apa yang terpikirkan, terasa di hati, teringat dalam kenangan. Orang mengatakan itulah ide, itulah intuisi, itulah ilham, itulah kata-kata suara hati, itulah kata-kata bisikan ‘malaikat’, itulah kata-kata sebagai rahmat dan pemberian dari Tuhan, Allah SWT.  Kata-kata tersebut adakalanya hanya sekata, dua kata atau beberapa kata. Tulis dan tulis sedapatnya, seingatnya saja. Simpan.  Diendapkan. Dibaca ulang dan diolah dengan penambahan kata, sehingga menjdi awal puisi/ semula puisi. Disimpan kembali. Kemudian, ada waktu atau teringat lagi dengan puisi itu maka segera diambil. Dibaca dan berupaya untuk mengubahnya, menyempurnakannya,” urai mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang tersebut.

Sastrawan yang sudah mendapatkan beberapa penghargaan dan anugrah secara regional, nasional dan internasional tersebut, menegaskan, bahwa seorang penyair, semula bukan siapa- siapa. Bersebab, membaca, dengan berbagai pengalaman terkaitan dengan pembacaan dan kepenulisan, yang niscaya akibat berinteraksi dengan banyak orang, terutama para penyair khususnya, maka akhirnya berhasil menjadi penyair. Bahwa semula, kata-kata yang ditulis dalam rangkaian kalimat dan bait samasekali bukanlah puisi, melainkan kata-kata biasa saja. Tetapi dengan terus ditukangi pantang menyerah, lalu menemukan jati dirinya, maka ujudlah puisi, yang puisi itupun dapat apresiasi dari orang lain.

“Perlu perjuangan yang serius dan sungguh- sungguh di dalam pembacaan, penulisan dan menukangi tulisan yang sudah diujdukan. Maka, menulislah sebelum datang seseorang hanya menulis namamu saja di batu nisan. Jadilah penulis, sehingga akan memberi manfaat dan faedah dalam masa yang lama kepada ramai orang. Hendak umur panjang, maka menulislah,” ucap Akib.

Penghargaan/ Anugerah Bermakna.

Dalam menekuni dunia tulis-menulis, literasi, kalam bidang seni-sastra-budaya lebih 37 tahun (1986-2023), puji syukur kepada Allah SWT., Tuhan Yang Maha Kuasa, telah menerima beberapa anugerah (penghargaan) seni- sastra- budaya, baik lokal, nasional maupun internasional. Tersebab ini, semakin diri menjura adanya.

Adapun penghargaan dimaksud:
1). Penghargaan/ Anugerah Sagang sebagai Seniman Serantau, dari Yayasan Sagang, Riau, tahun 2013.

2). Satu di antara Penyair sebagai Pemenang Buku Puisi Pilihan, kumpulan puisi Jikalau Laut Dinyalakan yang menerima Anugerah Hari Puisi Indonsia pada Sayembara Buku Puisi Indonesia yang ditaja Yayasan Hari Puisi Indonesia, tahun 2019.

3). Penerima Anugerah Jembia Emas, dari Yayasan Jembia Emas, Kepulauan Riau, tahun 2019.

4). Penerima Penghargaan Anugerah Kepemimpinan Adat dan Warisan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) 2019 dari Prseiden Dunia Melayu Dunia Islam, atas jasa dan sumbangan memartabatkan dan mem-perkasakan Warisan Peradaban di Rumpun Melayu dari Dunia Melayu Dunia Islam, tahun 2019.

5). Bulan Bahasa 2021, penerima Penghargaan Penulis Puisi dari Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau, Badan Bahasa dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan,  Kebudayaan, Riset dan Teknologi. (Red).

Editor : Rizal.

Komentar