Mesjid Dimana?

Tidak ada komentar 231 views

 

DIAN FADILLAH, S.Sos
Pemerhati Jalan Jalan (Lembayung Collection).

Opini : Menurut Informasi Dinas Kesehatan Tanjungpinang pada 31 Maret 2020 merilis sebaran Orang Dalam Pengawasan (ODP) Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) mencapai 120 0rang, yang tersebar di 15 lokasi dan disampaikan Walikota Tanjungpinang untuk tidak perlu cemas dengan kondisi ini. Menjaga jarak dengan warga lainnya, selalu hidup bersih dan membatasi kumpul-kumpul di luar.

Masjid yang merupakan bentuk tidak baku dari Mesjid sebagai salah satu tempat berkumpul juga menjadi acuan yang dimaksud. Untuk dapat dipahami bahwa Masjid adalah tempat ibadah umat Islam, rumah tempat ibadah, sujud dan sebutan lain di Indonesia dengan Fungsi Ubudiyah (Peribadatan), Tarbiyah (Pendidikan, Pembinaan) dan fungsi Ijtima,iyah (Sosial dan Kemasyarakatan).

Dalam kondisi ini masyarakat dihadapkan dengan situasi miris melihat beberapa Mesjid di tutup pintunya, ditutup gerbangnya. Masyarakat terutama umat Islam dibuat bingung sehubungan dengan adanya Taushiyah MUI yang dikeluarkan pada 25 Maret 2020 dalam situasi pandemic Virus COVID-19 yang meminta kepada Pengelola Masjid dan segenap umat Islam se Propinsi Kepri untuk tidak menyelenggarakan Shalat, baik sholat Fardhu Lima waktu, Jumat sampai dengan Pemerintah menyampaikan kondisi telah kembali normal dan para Jamaah menggantinya dengan melaksanakan shalat Dzuhur di kediaman masing-masing.

Kebiasaan masyarakat yang senantiasa melaksanakan ibadah shalat Fardhu 5 waktu sehari semalam yaitu shalat Shubuh, Zhuhur, Ashar Maghrib, dan Isya apalagi untuk Shalat Jumat yang WAJIB bagi semua laki-laki yang akil baligh (tanpa ada alasan apapun).

Apakah dengan masalah yang sudah banyak melanda negara tercinta Indonesia termasuk Corona saat ini, harus juga membuat kita menjauh dari Rumah Allah ?. Harusnya kita lebih mendekatkabn diri, lebih memohon, lebih banyak sujud, lebih banyak shalat dan berdoa agar masalah ini cepat berakhir dari muka bumi tercinta dan bukannya lari menjauh dari masalah.

Apakah pemikiran ini tidak harus ditinjau ulang kembali ? Apakah harus seperti itu jalan keluarnya ? Apakah kita harus takut dengan virus ketimbang takut kepada Allah swt Yang maha Segala-galanya yang mencipatkan makhluk berserta isinya ?. Sujudlah dan meminta lah pada-ku maka akan aku angkat masalahmu ! “Apabila diperlukan menangislah minta kepadaku apapun yang kau mau pasti ku Kabulkan “.

Tentu harusnya kita berwudhu dengan benar, shalat di Lapangan Bersama-sama sebagaimana kita Shalat minta Hujan turun. Meminta ampun kepada Sang Pencipta akan segala kesalahan kita, Kesalahan pemimpin-pemimpin kita, kesalahan orang-orang tua kita dan minta diangkat virus ini agar cepat berakhir sebelum Ramadhan pada 24 April 2020 mendatang.

Saat ini mari kita koreksi diri dan bagaimana kegundahan dan kebingunan pengurus Mesjid, Mushalla dengan adanya edara MUI untuk memahami situasi Covid- 19. Kita adalah hamba yang lemah tapi kita bisa berikhtiar dengan cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer, scanning body dan berbagai cara agar kita tetap bisa shalat 5 waktu dan jumat di masjid dan memakmurkan masjid.

Ini kesempatan kita bertaubat sebelum ajal menjemput. Kamu mau Shalat atau di Sahalatkan. Kita harus memadukan logika dengan kenyataaan tapi bukan berarti pertimbangan dan kekuatan iman tidak ada di dalamnya. Allah SWT menurunkan suatu masalah kebumi pasti ada alasan pasti ada maksud. Allah SWT tidak akan mungkin melakukan itu tanpa ada asbab atau penyebannya.

Bayangkan apabila Mesjid Sudah ditinggalkan jamaahnya. Mesjid akan jadi Gedung kosong atau mungkin museum. Persis serbagaimana yang diungkapkan Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda” Tidak akan tiba hari kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun mesjid sebagaimana orang Yahudi dan Nasrani menghisasi tempat ibadah mereka.

Perhatikan sekarang seluruh penjuru dunia berbangga menghiasi mesjid dan sombong dalam mendirikan masid. Ibnu abbas menambahkan dalam kitab jami Ash Shaghir karangan As Syu disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda jika kalian mempercantik masjid masjid kalian dan menghiasi mushaf mushaf kalian dihiasi yang tersisa hanyalah dinding dinging dan perhiasannya padahal semua itu akan musnah ketika terjadi kiamat nanti sedangkan hati dan iman tidak hilang.

Meskipun demikian itu semua memang sudah keketapan Allah SWT (Mahir as Shufiy). Semoga dengan kembali membuka RUMAH IBADAH terutama Mesjid agar dapat difungsikan sebagaimana biasanya kembali dapat membentengi diri kita dengan nilai-nilai religi yang sudah tertanam dari kecil sampai dewasa, termasuk juga memperlihatkan ketaatan kita kepada Sang Pencipta.

Untuk generasi kita saat ini untuk pendidikan internal dan ekternal disamping tugas daring yang diberikan sekolah dan kampus juga dapat beribadah, see sebagai bukti ketaatan kita kepada-Nya. Semoga Pemerintah Pusat, daerah dan Ulama bisa melihat kebutuhan rumah ibadah terutama memakmurkan Mesjid ini sebagai hal yang penting dan menjadikan ini tugas bersama menuju masyarakat agamis sebagai polaritas “Smart Country”.

Email Autoresponder indonesia
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mesjid Dimana?"