Terumbu Karang Dengan Konsep Taman Karang

Tidak ada komentar 123 views
ADITA DWI NANTIKA (Mahasiswa UMRAH).

ADITA DWI NANTIKA (Mahasiswa UMRAH).

Penulis : Adita Dwi Nantika

Opini – Teknik konservasi terumbu karang di perairan Desa Pulau Pinang Kecamatan Tambelan menggunakan konsep taman karang.

Terumbu karang di Perairan Desa Pulau Pinang Kecamatan Tambelan membuat sebagian besar terumbu karang hampir punah. Mengantisipasi kerusakan ekosistem dan biota laut, pemerintah desa menerbitkan peraturan desa tentang penjagaan terumbu karang dan pemanfaatan daerah di pesisir.

Karang adalah binatang yang sangat rentan akan kerusakan, kenaikan suhu air laut sebesar 1o C diatas rata-rata normal akan membuat karang menjadi bleaching, dan dapat menimbulkan efek kematian. Jumlah sedimen diperairan melebihi 79–234 mg cm−2 akan membuat karang mengalami kematian (Erftemeijer et al., 2012).

Karang juga sangat peka terhadap racun sianida yang biasa digunakan nelayan untuk mencari lobster. Karang akan mengalami kematian dalam 30 menit apabila terkena sianida sebesar 10 ppt (Jones, 1997).

Untuk mencari Terumbu Karang di perairan Desa Pulau Pinang dapat ditemukan di sekitar pesisir, Terumbu karang di Perairan desa Pulau Pinang menjadi lahan bagi para nelayan tradisional (jukung dan pancing) untuk mencari ikan dan invertebrate lainnya.

Namun kondisi terumbu karang di Desa Pulau Pinang terus mengalami degradasi, hal ini dapat dilihat dari tutupan karang hidupnya yang terus mengalami penurunan. Ada beberapa factor kontribusi menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang di Desa pulau Pinang, yaitu adanya praktek destructive fishing, yakni menggunakan alat-alat dan bahan yang dapat merusak ekosistem terumbu karang, seperti yang dilakukan dengan aktifitas pengeboman.

Dengan aktifitas pengeboman ini membuat Ikan yang hidup didaerah karang akan mudah ditangkap hidup-hidup dengan menggunakan jaring. Namun bom ikan menjadi ancaman bagi kesehatan karang dan memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan karang, karena banyak ditemukan karang patah akibat kegiatan pengeboman .

Untuk mengembalikan ekosistem karang secara cepat dan alami, tentunya hal ini memerlukan waktu yang tidak sebentar. Pertumbuhan karang yang berkisar 10 cm/ bulan untuk jenis karang bercabang dan 1-3 cm/ bulan untuk jenis karang batu.

Menurut teknologi transplantasi karang yang diperkenalkan para ahli ekologi sejak 1975 (Lindahl, 2003) dan metode ini telah diadopsi oleh banyak negara.

Adapun langkah-langkah untuk melakukan transprantasi karang ini antara lain dengan cara.

1. Pengenalan jenis jenis karang.

Pengenalan jenis-jenis karang di perairan Desa Pulau Pinang dilakukan dengan metode focus group discussion (FGD), sebanyak 30 peserta dibagi menjadi 3 group besar. Kombinasi antara game dan materi diberikan agar peserta yang benar-benar awam tidak merasa jenuh.

Pengenalan jenis-jenis karang diawali dengan berbagai macam bentuk pertumbuhan karang yang berada di pantai Vio-vio. Kemudian dikenalkan biologi karang dan system reproduksi karang secara sekilas.

2. Pelatihan metode transplantasi karang.

Pelatihan metide ini, peserta dikenalkan dengan teknik transplantasi karang yang benar, dimulai dengan pemilihan indukan (donor), dalam hal ini karang yang akan dipergunakan sudah ditentukan untuk mengurangi resiko perusakan karang yang lebih luas dilokasi nantinya.

Jenis karang yang akan digunakan berasal dari lokasi transplantasi yaitu Acropora sp dengan bentuk pertumbuhan tabulate (meja), Goniastrea aspera berbentuk massive (karang batu) dan Leptoseris yabei berbentuk folious (daun).

Selanjutnya adalah cara prooning atau pemotongan fragmen. Fragment karang didapatkan dari induk dengan panjang 5-10 cm. Terakhir adalah melatih cara mengikat fragment pada media besi.

3. Pelatihan Pembuatan Taman Karang.

Media untuk taman karang adalah besi ulir ukuran 16 mm dengan berat 1,578 kg/m, media berbentuk doom dan piraminda. Doom memiliki ukuran diameter 1,8 m dan tinggi 2 m dan piramida spesifikasi panjang 1,8 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 1,8 m. Pada sesi ini masyarakat dan peserta dilatih cara deploying (penenggelaman) media kedalam air yang benar. Dilanjutkan dengan cara pengikatan fragment karang diatas media.

Dalam hal pengikatan fragment karang diatas media, pengikatan adalah teknik yang penting, ketika fragment terikat terlalu kuat maka kemungkinan besar akan patah dan apabila pengikatan terlalu longgar fragment akan jatuh terkena arus.

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Terumbu Karang Dengan Konsep Taman Karang"