TANJUNGPINANG, TUAHKEPRI- Sebanyak 65 siswa SMP-IT As Sakinah bersama guru pendamping menggelar perjalanan edukatif ke sejumlah cagar budaya di Tanjungpinang. Kegiatan ini bertujuan menelusuri warisan sejarah kota serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya.
Kunjungan dimulai di Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, tempat yang menyimpan berbagai koleksi peninggalan Kesultanan Riau- Lingga dan kolonial Belanda. Dengan penuh antusias, para siswa mendengarkan penjelasan pemandu mengenai artefak bersejarah, foto-foto lama, serta manuskrip yang menggambarkan peran Tanjungpinang sebagai pusat perdagangan dan intelektual Melayu.
“Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melestarikan peninggalan sejarah serta memahami peran Tanjungpinang dalam peradaban masa lalu,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri, Selasa (25/3/2025).
Sebelum meninggalkan museum, para siswa disuguhkan film dokumenter mengenai perjuangan Raja Haji Fisabilillah, sosok pahlawan nasional yang berperan dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda.
Dari museum, perjalanan berlanjut ke Kota Lama Tanjungpinang, kawasan yang dipenuhi bangunan tua bergaya kolonial dan Melayu. Di sepanjang perjalanan, siswa dikenalkan dengan sejarah perkembangan kota serta bagaimana interaksi budaya dan perdagangan membentuk identitas Tanjungpinang.
“Kawasan ini menjadi pengingat bahwa Tanjungpinang pernah menjadi pusat aktivitas maritim strategis dalam jalur perdagangan Nusantara,” ujar Nazri.
Perjalanan dilanjutkan ke Makam Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dan Makam Yang Dipertuan Muda (YDM) Daeng Marewa. Di sana, siswa mendapat penjelasan dari staf bidang cagar budaya dan Juru Pelihara (Jupel) Cagar Budaya tentang riwayat Kesultanan Riau-Lingga serta keturunan kerajaan. Para siswa juga diajak mengamati arsitektur makam kerajaan yang menjadi bagian penting dari sejarah lokal.
Puncak kegiatan ini adalah kunjungan ke Kota Rebah di Sungai Carang, situs yang menyimpan sisa-sisa kejayaan Kesultanan Riau-Lingga. Di lokasi ini, siswa melihat langsung fondasi bangunan istana dan kompleks pemerintahan yang kini hanya berupa puing-puing. Mereka juga belajar bahwa Sungai Carang dahulu menjadi pusat pemerintahan sebelum akhirnya ditinggalkan.
“Pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap peninggalan sejarah memiliki cerita yang harus ditemukenali, agar generasi muda tidak kehilangan jejak masa lalu mereka,” tutur Nazri.
Kegiatan ini menegaskan bahwa cagar budaya bukan sekadar situs bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang hidup bagi generasi penerus. Disbudpar Tanjungpinang berencana lebih aktif mempromosikan kegiatan edukatif berbasis sejarah, termasuk dengan konsep heritage tour dan peningkatan fasilitas di lokasi cagar budaya.
“Sejarah adalah jati diri suatu bangsa. Mengenalkannya kepada generasi muda adalah langkah penting dalam menjaga warisan budaya,” kata Nazri.
(Red).
Editor : Rizal.






Komentar